Kamis, 07 Januari 2016

Mediasi Isu Santet Desa Kalibuntu

Probolinggo - Isu kasus santet yang berujung dengan pengerusakan rumah tertuduh Ramli di Desa Kalibuntu Kecamatan Kraksaan Kabupaten Probolinggo kini sedikit menemui jalan terang kala kedua pihak keluarga tertuduh dan penuduh di mediasi hari ini rabu (7/1) di Pendopo Kota Kraksaa pukul 09.30 WIB. Mediasi yang dilaksanakan pagi ini bertujuan untuk mendamaikan kedua belah pihak yang bertikai juga sebagai sarana Muspika kraksaan untuk menanamkan kembali kepada kedua belah pihak untuk tidak saling membalas kekerasan.

Dalam kesempatan pagi ini adapun mediator yang hadir dalam mediasi tersebut adalah sebagai berikut, Forpimka Kraksaan, Kasat Binmas Polres Probolinggo, Kasat Intelkam Polres Probolinggo, Kesbangpol dan Linmas Kabupaten Probolinggo, H. Syihabudin Sholeh (tokoh agama Kota Kraksaan yang menjabat sebagai bendahara MUI Kabupaten Probolinggo), Kepala Puskesmas Kraksaan, H. Fathoni (tokoh agama Desa Kalibuntu), Kepala Desa Kalibuntu, dan keluarga Alm. Zainal Arifin. Hari ini Muspika Kraksaan memang tidak menghadirkan Ramli sang tertuduh karena fokus mediasi hari ini adalah penyadaran untuk keluarga penuduh, Asma yaitu ibunda dari Alm. Zainal arifin.

Dalam mediasi kepada keluarga penuduh hari ini Kepala puskesmas kembali menerangkan kepada pihak keluarga bahwa Alm. Zainal Arifin meninggal akibat menderita diare akut yang membutuhkan waktu lama untuk proses penyembuhannnya. Hal ini bertolak belakang dengan apa yang disampaikan oleh keluarga Alm. Zainal beberapa waktu yang lalu bahwa Alm. Zainal meninggal tanpa ada gejala hingga menyeruaplah isu bahwa Alm. Zainal di santet oleh Ramli.

Selaras dengan Kepala Puskesmas Kraksaan KH. Syihabuddin juga menyadarkan kembali keluarga Alm. Zainal melalui pendekatan agamis. Beliau menyampaikan bahwa kita sebagai umat islam harusnya tidak mempercayai dukun ditakutkan nantinya akan menjerumus ke perilaku syirik. KH. Syihabuddin juga menghimbau keluarga Asma agar selalu berprangka baik kepada setiap orang dan menghindari perilaku su'udzan yang dilarang oleh agama. "Hidup dan matinya seseorang sudah Allah yang mengatur" imbuh beliau.

Dari Kapolsek Kraksaan, Kapolsek Kompol Subadar ingin bahwa kedua pihak kembali berdamai secara kekeluargaan. Dan untuk keluarga Alm. Zainal dihimbau untuk tabah dan mengikhlaskan kepergian Alm. Zainal Arifin dan menganggap ini sebagai musibah yang ditakdirkan Allah kepada keluarganya. Kapolsek Kraksaan juga menjanjikan untuk memaklumi tindak pidana pengerusakan rumah Ramli andai keluarga Alm. Zainal menyadari kejadian ini adalah cobaan yang harus dihadapi oleh keluarganya.

Sementara tokoh agama Desa Kalibuntu H. Fathoni memeang mengakui bahwa Desa Kalibuntu masih rentan terprovokasi dengan adanya isu santet. Hal ini dikarenakan budaya dan latar belakang pendidikan warga Desa Kalibuntu yang masih rendah sehingga perlu diadakannya penyuluhan baik dari pihak medis, agama, dan keamanan oleh pihak pihak yang terkait.

Setelah sekian lama mediasi yang dilaksanakan pagi ini ternyata pihak keluarga Asma masih menuntu agar Ramli tidak lagi bertempat tinggal di Desa Kalibuntu. Asma tetap tidak menghendaki dan tidak sudi Ramli kembali ke rumahnya di Desa Kalibuntu. Dengan adanya keputusan keluarga Alm Zainal yang menolak tawaran dari Kapolsek Kraksaan, maka Polsek Kraksaan akan mengupayakan jalur hukum dan memanggil penuduh untuk diperiksa sebagai saksi dalam kasusu pengerusakan rumah Ramli. Polsek Kraksaan juga berupaya untuk menahan kedua belah pihak agar tidak kembali muncul konflik pasca mediasi hari ini.