Selasa, 07 Maret 2017

Diduga Cemburu, Seorang Pedagang Sayur Tewas Dibacok

PROBOLINGGO - Hidup Ghozin (21), warga Dusun Kramat, Desa Kramat Agung, Kecamatan Bantaran, Kabupaten Probolinggo, berakhir tragis. Pria yang sehari-harinya jadi tukang sayur keliling itu tewas mengenaskan usai di bacok  dengan membabi buta oleh Nemo (42), warga Dusun Kaporan, Desa Tempuran, Kecamatan  Bantaran, yang sehari-harinya jadi petani.

Dugaan sementara, aksi pembunuhan itu dilatarbelakangi motif asmara. Nemo mengaku tak terima karena istrinya pernah digoda oleh korban. Aksi pembantaian itu terjadi sekitar pukul 08.00 pagi kemarin.

Sebelumnya, Ghozin berangkat kerja dari rumahnya selepas subuh. Ia ke pasar dulu untuk kulakan. Setelah itu, ia berkeliling kampung dengan mengendarai motor Honda Revo miliknya untuk  menjajakan dagangannya.

Sekitar pukul 08.00, Ghozin sampai di kampung Nemo. Ia lantas memarkir motornya di depan rumah Nemo. Tak berselang lama, Nemo keluar. Ia menghampiri Ghozin sambil membawa celurit. Ia lantas membacokkan ke arah Ghozin.

Mendapati serangan itu, Ghozin sejatinya sempat menangkis dengan tangan kanannya.  Namun, lengan tangan kanannya malah disabet celurit. Kondisi lengan tangan kanannya pun nyaris putus imbas sabetan itu. Usai terkena bacokan di tangannya, Ghozin sempat berupaya lari ke arah utara.

Namun, Nemo terus mengejar. Hingga berjarak sekitar 100 meter dari lokasi awal, Ghozin kembali terkena bacokan di bagian mulut hingga bagian  belakang kepalanya. Nemo lantas terus membacok korban yang sudah ambruk.

Hasil visum menyebutkan, korban Ghozin mengalami 23 luka bacokan di tubuhnya. Hal itu membuat lehernya hampir putus,  kakinya mengalami luka serius dan luka di tangan korban. Lokasi pembantaian Ghozin berada di permukiman warga. Namun, saat itu tak ada warga yang berani keluar rumah.

Usai melihat Ghozin tergeletak, Nemo sempat berdiam diri sejenak tak jauh dari lokasi. Selanjutnya, ia bersembunyi ke rumah  saudaranya yang masih berada  di Desa Tempuran. ”Ibu-ibu dan warga yang ada di lokasi, awalnya tidak berani  mengangkat korban karena  takut. Akhirnya, saya ajak mereka untuk mengangkatknya  (korban Ghozin),” kata Rohim, warga Desa Tempuran.

Warga lantas menghubungi Polsek Bantaran. Tak berselang lama petugas datang untuk mengevakuasi korban ke RSUD. Namun, belum sampai rumah sakit, Ghozin dinyatakan sudah meninggal karena kehabisan darah.

Rohim mengaku, dirinya tidak mengetahui pasti kronologi pembacokan itu. Yang jelas, saat ia datang ke lokasi kejadian, Ghozin sudah tergeletak di tanah dengan kondisi penuh luka bacok. Saat itu, kondisi korban masih  bernapas.

“Kemungkinan korban itu lari setelah kena bacok. Karena, jarak motor dengan lokasi tergeletaknya korban ini  jauh, berkisar 100 meter. Tetapi, lokasinya di kampung, jadi banyak rumah,” terangnya. Saat di kamar mayat RSUD, keluarga korban nampak histeris.

“Mau bilang bagaimana ke Bapak, anaknya mati begini? Salahnya apa kok dibunuh?” kata Nizar (55), paman korban. Nizar yakin keponakannya tidak bersalah. Sebab, sehari-harinya keponakannya dikenal merupakan anak pendiam.

Ghozin disebutkan sudah lama jadi tukang sayur keliling. Salah satu perangkat Desa Kramat Agung yang kemarin juga ikut ke kamar mayat RSUD menyebutkan, saat Ghozin berjualan sayur, ia kerap menjaga jarak dengan pelanggan ibu-ibu.

Biasanya Ghozin saat berjualan memarkir motornya. Lantas, ia menjauh dari dagangannya. Atau tidak ikut ngumpul bareng dengan ibu-ibu pembeli. ”Semalam masih ketemu dan ngobrol dengan saya. Kelihatannya, tidak ada masalah. Ia juga tidak cerita kalau punya musuh,”  katanya.

Sementara itu, hanya berselang sejam usai aksi pembacokan  membabi buta pada Ghozin, petugas kepolisian sektor Bantaran langsung berhasil mengamankan Nemo. Ia diamankan  tanpa perlawanan di rumah saudaranya yang berada di desa yang sama.

“Nemo sudah mengakui perbuatannya dan telah kami tetapkan sebagai tersangka. Sekarang tinggal proses pemeriksaan saksi,” kata Kapolsek Bantaran AKP Sujianto.

Dalam proses penyidikan, pihaknya lebih dulu mengumpulkan keterangan saksi dan barang bukti. Karenanya, pihaknya mendahulukan memeriksa saksi kejadian.

“Sudah ada dua saksi kejadian yang kami panggil dan mintai keterangan. Mereka saksi yang  membantu korban setelah kejadian,” ujar polisi dengan tiga  seterip di pundaknya itu. AKP Sujianto mengatakan, juga tetap akan menyelidiki motif lain atas kasus penganiayaan berat ini.

Total, ada 23 bekas sabetan celurit di  tubuh korban. Akibatnya, korban tewas dalam perjalan menuju RSUD dr. Moh. Saleh Kota Probolinggo. Dugaan sementara, pembacokan ini dilatarbelakangi rasa cemburu tersangka terhadap korban.