Kamis, 09 Maret 2017

Kapolres Secara Simbolis Berikan Bantuan Pada Pedagang


PROBOLINGGO Pembangunan Pasar Leces yang menelan anggaran Rp5,4 miliar akhirnya diresmikan Bupati Probolinggo Hj. P, Tantriana Sari kemarin (9/3/2017). Tidak hanya itu, dalam peresmian tersebut, Kapolres Probolinggo AKBP Arman Asmara Syarifudin secara simbolis memberikan bantuan modal pada pedagang.

Tidak hanya memberikan modal secara simbolis, AKBP Arman Asmara Syarifuddin juga memberikan Alquran pada masjid yang berada di tengah pasar tersebut. “Kerja boleh, tapi jangan lupakan dunia, makanya kami mengingatkan itu dengan cara memberikan kitab suci alwuran kepada takmir masjid. Semoga bermanfaat,” kata Kapolres Probolinggo, AKBP Arman.

Sementara itu, pembangunan Pasar Leces ini merupakan pasar dengan anggaran terbesar yang dibangun pada tahun 2016 lalu yang mencapai Rp 5,4 miliar dari anggaran Tugas Pembangunan (TP) dari Pemerintah Pusat. Sementara pasar lainnya, yakni berasal dari Dana Alokasi Umum (DAU), yakni pasar ambulu, pasar bucor, Pasar Besuk dan Pasar Senen yang anggarannya masing-masing sebanyak Rp 198 juta.

Bupati Probolinggo Hj. P. Tantriana Sari mengatakan pembangunan pasar tradisional ini merupakan komitmen pemkab Probolinggo selama sempat tahun telah membangun 34 unit pasar tradisional.  

“Sehingga dengan seperti itu pasar tradisional nyaman, aman bagi penjual maupun pembeli. Paling tidak dengan kondisi yang sama seperti di pasar modern tersebut bisa diimplementasikan juga di pasar tradisional. Karena kecenderungan saat ini lebih tertarik kepasda  pasar modern,” katanya.

Bupati menambahkan, memang pembangunan pasar leces senilai Rp 5,4 miliar tersebut jumlah bedak yang dibangun melebih jumlah pedagang sebelumnya. “Kami mengingatkan kembali kepada manajemen pasar sistem transparan. Pedagang lama tetap harus doperioritaskan untuk menepatkan bedak,” katanya.

Selain itu, Bupati meminta dengan pembangunan pasar tersebut tidak ada lagi warga yang disebut raja bedak. “Pastikan satu pedagang mempunyai satu bedak. Semuanya gratis, mana kala ada pugutan maupun tarikan, itu bukan kebijakan pemkab. Pemkab hanya mengambil retribusi setiap bulan dan dikumpulkan manajemen pasar. Kalau ada selain ITU adalah pengutan ilegal,” jelasnya.

Selanjutnya, setelah pasar tersebut dibangun, Bupati mewajibkan adanya evaluasi setiap tahun yang dilakukan manajemen pasar. “Tujuannya untuk mengindari penjualan bedak maupun peralihan pemilik bedak. Semoga pembangunan pasar leces ini bermanfaat,” tandasya. (humas/rob)