Rabu, 22 Maret 2017

Polres Probolinggo Gelar Simulasi Penanganan Unjuk Rasa Aksi Anarkis

PROBOLINGGO - Kepolisian Resort Probolinggo menggelar simulasi penanganan unjuk rasa di PT IPMOMI PLTU Paiton, Kabupaten Probolinggo, Rabu (22/3/2017) pagi tadi. Sejumlah tahapan penanganan massa disimulasikan, termasuk penembakan menggunakan gas air mata. Hal ini dilakukan sebagai bentuk kesiapan Polri dalam menghadapi perusuh dalam skala banyak.

Yang terlibat bukan hanya personel Sabhara, tapi seluruh satuan fungsi mulai dari Reskrim, Intel, Narkoba, Satlantas, Polsek jajaran, serta satpam PLTU. Simulasi dibuat seperti keadaan sesungguhnya agar personel dapat membaca, memahami dan menangani situasi dengan cepat dan tepat.

Simulasi penanganan aksi anarkis yang dipimpin langsung Wakapolres Probolinggo Kompol Hendy Kurniawan itu, dimulai dengan persiapan personel, baik pasukan Dalmas yang didalamnya terdapat negosiator, Dalmas awal tanpa pemukul, Dalmas inti yang memegang tameng dan tongkat, kemudian pemasangan barikade kawat berduri serta personel pengurai massa yang mengendarai motor dan bersenjata gas air mata. Dihadapan mereka ada sejumlah pengunjuk rasa yang siap berbuat anarkis.

Saat pengunjuk rasa datang sambil berteriak dan mengungkapkan orasinya, tim negosiator berupaya memberikan himbauan dan meminta massa untuk tertib. Selanjutnya tim negosiator meminta perwakilan pendemo bertemu dengan pihak yang didemo. 

Selang beberapa saat, massa yang menggunakan sepeda motor menyusul mendatangi kerumunan. Karena negosiasi tidak ada titik temu, massa yang terus dikompori oleh koordinator lapangan, mulai terlihat emosi dan bergerak maju sambil mendorong pasukan Dalmas Awal.

Jumlah massa yang besar dan bisa mendesak, barisan Dalmas inti yang menggunakan tameng maju sambil melakukan dorongan. Massa malah kian beringas dan melakukan pelemparan. Petugas yang mengendarai kendaraan water canon pun bergegas maju kemudian menembakkan air kepada massa.

Karena massa tak kunjung mundur, barikade kawat berduri pun digelar. Kemudian, petugas pengurai yang membawa gas air mata menembakkan senjatanya. Seketika massa berhamburan menghindari asap gas air mata yang sangat perih dan menyesakkan.

Saat diwawancarai, Kabagops Polres Probolinggo Kompol Budi SUlistyanto menjelaskan, penanganan unjuk rasa dipastikan tetap berpegang pada hak asasi manusia. Tidak menggunakan peralatan yang membahayakan masyarakat. "Kalaupun massa nantinya anarkis, kami akan menggunakan protap Nomor 1 Tahun 2010 tentang Penanggulangan Tindakan Anarkis," jelasnya.