Jumat, 07 April 2017

Lima Saksi Dihadirkan Dalam Sidang Lanjutan Kasus Dimas Kanjeng

Probolinggo - Lima saksi dihadirkan Jaksa Penuntut Umum (JPU) Kejari Kabupaten Probolinggo dalam persidangan kasus pembunuhan terhadap Abdul Gani dengan terdakwa Taat Pribadi alias Dimas Kanjeng Taat Pribadi, kemarin.

Dalam persidangan di Pengadilan Negeri (PN) Kraksaan, itu salah satu saksi mengatakan pembunuhan terhadap korban diperintah oleh  Abah Kertonegoro. Kelima saksi itu diantaranya, tiga saksi dari BPBD Kabupaten Wonogiri. Yakni, Tri Nuryanto, Ferdika wahyudi, dan Muhammad Arip Prasetyo.

Dua saksi lainnya, Muriyat Subianto dan Boiran yang juga terdakwa atas kasus serupa. Tapi, keduanya disidang terpisah. Setelah diambil sumpahnya, tiga saksi asal Wonogiri itu diperiksa secara bersama-sama. Mereka lebih banyak memaparkan soal kronologi penemuan mayat Abdul Gani di bawah Jembatan Kedungareng Waduk Gajah Mungkur Wonogiri.

“Awalnya tidak diketahui laki-laki atau perempuan karena posisinya tengkurap. Tidak ada identitasnya dan langsung ditangani kepolisian,” ujarnya. Setelah ketiga saksi menjelaskan kronologi penemuan mayat korban, selanjutnya giliran Muriyat.

Dalam persidangan, saksi mengaku mengenal korban setelah dirinya menjadi sultan agung di Padepokan Dimas Kanjeng. “Setelah jadi sultan, saya baru mengenal korban Abdul Gani sebagai ketua yayasan dan sultan agung,” ujarnya.

Ia juga mengaku tak tahu jika korban pernah memberikan ceramah kontroversial atau menuduh ada penipuan di padepokan dihadapan pengikut padepokan. Termasuk, seperti apa hubungan antara korban dengan terdakwa Taat Pribadi.

“Hubungannya baik atau memanas, saya tidak tahu,” ujarnya. Kemudian, JPU langsung menanyakan kejadian pada 14 April, yakni pembunuhan Abdul Gani. Saksi mengaku, baru tahu dari media elektronik korban ditemukan tewas di Wonogiri.

“Ada juga kabar burung korban mati karena kecelakaan lalu lintas,” ujar Muriat.  Saksi juga mengaku tak pernah berkomunikasi dengan terdakwa, termasuk pada 12 dan 13 April 2016. Atau, saat kejadian pembunuhan korban.

“Selama ini hanya komunikasi dengan terdakwa Wahyu Wijaya (juga terdakwa dalam kasus serupa),” tuturnya. Menurut saksi, kemudian ada perintah dari Wahyu Wijaya. Yakni, korban dianggap sudah tidak lagi memperjuangkan kesejahteraan rakyat. Sehingga, ada perintah dari Wahyu Wijaya  untuk diselesaikan. Di padepokan, Wahyu Wijaya menjadi tim pelindung.

“Setahu saya, ketua tim  pelindung itu Wahyu Wijaya,” ujar Muriat. Setelah majelis hakim dan JPU, giliran penasihat hukum terdakwa yang mengeluarkan sejumlah pertanyaan. Saat itulah, saksi mengatakan, Abah Kertonegoro yang memerintah Wahyu  Wijaya membunuh korban. Saksi juga yakin, Abah Kertonegoro itu bukan terdakwa.

“Tidak pernah ada beliau (terdakwa Taat Pribadi) selama kejadian pembunuhan Gani itu,” ujarnya. Sedangkan, saksi Boiran mengaku dihubungi saksi Muriat untuk menemui Wahyu Wijaya. Ternyata, dia dimintai tolong untuk membantu Kurniadi.

“Saya disuruh membantu Kurniadi. Proses mulai memukul dan menjerat pakai tali berkisar 45 detik,” ujarnya. JPU Muhammad Usman mengatakan, dari lima saksi kemarin, memang tidak ada saksi yang menyebutkan keterlibatan terdakwa.

“Kami tetap akan buktikan terdakwa Taat Pribadi terlibat,” katanya. Sedangkan, penasihat hukum terdakwa Muhammad Sholeh mengatakan, sesuai fakta persidangan kemarin, tidak ada keterangan saksi ataupun fakta yang menyebutkan terdakwa terlibat.

Kliennya tidak pernah memerintah ataupun terlibat dalam kasus pembunuhan terhadap Adbul Gani. “Kami sudah tegaskan sejak  awal, termasuk saat eksepsi. Bahwa, Taat Pribadi tidak terlibat dan tidak pernah memerintahkan  membunuh Gani,” ujarnya, usai persidangan.