Kamis, 07 Desember 2017

Hiu Tutul Masuk Ke Probolinggo : Satpolairud Laksanakan Patroli Wisata


PROBOLINGGO (SATPOLAIRUD) – Keberadaan kawanan hiu tutul di perairan Probolinggo Jawa Timur menjadi atensi khusus Satpolair Polres Probolinggo. Bersama Badan Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) setempat, melakukan patroli rutin, Rabu (6/12/2017).

Patroli ditujukan untuk memantau migrasi hiu tutul tersebut, serta memberikan himbauan pada nelayan maupun kapal besar yang lego jangkar agar tidak mengganggu hiu tersebut.

Patroli laut dilakukan dengan kapal cepat milik satpolair setempat. Dari Pelabuhan Tanjung Tembaga, rombongan bergerak ke sekitar pelabuhan, dimana kawanan hiu tutul berenang bebas. Pada migrasi tahun ini, kawanan hiu tutul memang terlihat di sekitar pelabuhan tanjung tembaga.

Berdasarkan informasi dari BKSDA, kawasan sepanjang pelabuhan Tanjung Tembaga hingga pantai Bentar di sisi timur, merupakan lokasi favorit hiu tutul. Lantaran stok plankton yang sangat melimpah, serta kondisi alam bawah lautnya yang masih alami.

Patroli kemudian bergerak ke arah kapal penyeberangan yang tengah lego jangkar untuk perbaikan. Di sana petugas, yang dipimpin Kapolres Probolinggo, AKBP Fadly Samad langsung memberikan himbauan pada awak kapal agar tidak mengganggu keberadaan hiu tutul.

“Setidaknya nelayan, warga setempat, maupun kapal besar tidak mengganggu keberadaan kawanan hiu tutul ini. Harapannya, agar bisa menjadi magnet wisata. Para wisatawan bisa datang dan melihat hiu tutul ini di perairan Probolinggo,” katanya, di sela-sela patroli laut.

Tiap tahun, kawanan hiu tutul ini selalu migrasi ke perairan Probolinggo untuk mencari makan. Berupa ikan kecil dan plankton, yang tersedia melimpah di perairan ini. Bukan karena cuaca buruk yang kerap terjadi belakangan ini.
Pihak BKSDA mengimbau, agar warga masyarakat maupun nelayan tidak mengejar dan bermain terlalu dekat dengan biota laut yang terancam punah ini.

“Ya, seharusnya warga tidak mempermainkan kawanan hiu tutul ini. Sebab kadang, ada yang lompat dari perahu dan menaikinya. Itu tidak boleh, agar ikan ini tidak stres. Mengingat keberadaannya yang masuk dalam hewan rawan punah,” kata BKSDA seksi Probolinggo, Sudartono.

(humasresprob)