Saturday, December 16, 2017

OPS PEKAT SEMERU 2017 POLSEK BANYUANYAR BERHASIL UNGKAP PEREDARAN PIL KOPLO


Polres Probolinggo - Polsek Banyuanyar, berawal dari pengaduan masyarakat Polsek Banyuanyar berhasil mengungkap peredaran pil koplo jenis dexstro dan trex, dengan jumlah 590 butir pil dexstro warna kuning dan 100 butir trex warna putih, di wilayah Kecamatan Banyuanyar Kabupaten Probolinggo. Pada Jum'at (15/12/2017) Kanit Reskrim Polsek Banyuanyar mengatakan pihaknya telah mengamankan satu tersangka diduga sebagai pengedar obat-obat tersebut A.n. (SA) warga Kecamatan Gending yang ditangkap di Desa Banyuanyar Tengah Kecamatan Banyuanyar saat melakukan transaksi dengan pelanggannya. 

"kami menemukan barang bukti sebanyak 590 butir pil dexstro warna kuning dan 100 butir pil trex warna putih" jelasnya, ia menambahkan dari keterangan pelaku obat tersebut sudah terjual sebanyak 80 butir dengan harga Rp. 1.000,- /butir dengan sasaran kaum remaja yang masih labil. "Obat ini digunakan untuk campuran mabuk, biasa dicampur dengan minuman berenergi dan bisa berakibat bagi peminumnya tidak sadarkan diri, istilahnya mabuk, dengan harga yang murah. Pelaku sudah tahu barang tersebut telah dilarang dari pemberitaan yang marak, dia mengaku sayang untuk dibuang, dan justru malah akhirnya tertangkap" katanya. "Alur peredarannya ini masih kita kembangkan, keterangan pelaku ini masih kita dalami, bukan tidak mungkin ada pengedar lainnya" jelas Kanit Reskrim Polsek Banyuanyar.


"Dari pengaduan masyarakat tersebut kami melakukan penyidikan dan penyelidikan, sejak seminggu yang lalu, dan akhirnya kami berhasil mengamankan pelaku beserta barang bukti dan membawa pelaku ke Kantor Polsek Banyuanyar untuk diminta keterangan. Penangkapan ini merupakan salah satu dari Ops. Pekat Semeru 2017 dan untuk menciptakan rasa nyaman kepada masyarakat menjelang Natal dan Tahun Baru 2018" ungkap Kapolsek Banyuanyar AKP Muhammad Dugel, S.Pd yang baru menjabat 7 hari menjadi Kapolsek Banyuanyar.

Kini pelaku mendekam sel tahanan Polsek Banyuanyar, penyidik menjeratnya dengan Pasal 196, 197 dan Pasal 198 Undang-undang No.36 Tahun 2009 Tentang Kesehatan dengan ancaman hukuman 15 tahun penjara dan denda maksimal Rp 1 miliar.