Saturday, December 30, 2017

UMKM Sulit Pemasaran, Kanit Binmas Leces Turun Tangan

Polres Probolinggo - Tak sulit menemukan rumah Supiyah (46th), meskipun sedikit jauh dari Jl Raya Lumajang-Probolinggo Kecamatan Leces namun akses jalan dengan roda 4 masih dapat dilewati meski tak dapat dibilang memadai. Sebagaimana yang terjadi saat TBNewssambang ke rumahnya di Dusun Rowo Desa Sumberkedawung Kecamatan Leces kemarin (27/12/2017). Mobil yang dikendarai TBNews harus berhenti sejenak, bergantian memberikan kesempatan pada mobil yang berpapasan mengingat lebar jalan kurang dari 4 meter. Sesampainya di rumah, TBNews yang datang bersama Kanit Binmas Leces Fifit Priyanto disambut oleh anak sulung Supiyah, yang mempersilahkan kami masuk ke dalam ruang tamu. Tak lama kemudian Supiyah pun menyambut kami dengan ramah. Pandangan kami pun langsung tertuju pada tumpukan tas-tas unik yang terbuat dari anyaman eceng gondok. Supiyah pun dengan senang hati menjelaskan hal ihwal dirinya menggeluti kerajinan eceng gondok tersebut.

Perempuan berjilbab lebar tersebut mulai bercerita bahwa awalnya adalah melimpahnya tanaman eceng gondok di sumber air belakang rumahnya atau yang lazim disebut masyarakat sekitar dengan istilah rowo. Warga sekitar sudah sering kali membersihkan rowo dari tanaman liar tersebut namun masih saja overpopulated. “Bahkan para pemuda disini sebelum bebersih harus minum se te em” jelasnya menyebutkan salah satu jenis obat gatal-gatal yang banyak dijual bebas. Fifit pun mengiyakan “Saya juga pernah kerja bakti di rowo, gatalnya minta ampun! ” tukasnya. Ibu 4 anak tersebut kembali melanjutkan ceritanya bahwa di awal tahun 2017 kemarin Bupati Probolinggo datang berkunjung ke blok rowo dan melihat banyaknya tanaman eceng gondok di tempat tersebut maka Bupati merencanakan mengadakan pelatihan pemanfaatan tanaman eceng gondok sebagai kerajinan. Kemudian diadakanlah 2 kali pelatihan yang diadakan oleh Dinas Koperasi dan Usaha Mikro Kecil Menengah (Dinkop dan UMKM) Kabupaten Probolinggo. Berbekal pengalaman pelatihan dan kemauan dirinya mengumpulkan beberapa orang tetangganya untuk ikut berpartisipasi dalam membuat kerajinan eceng gondok. Terhitung 5 orang dalam kelompok yang dibentuknya. Pengerjaan 1 tas wanita dengan ukuran 30 x 20 dapat dikerjakan oleh satu orang selama kurang dari 4 jam saja. “Yang lama adalah proses jemurnya hingga kering, eceng gondok butuh waktu sekitar 1 minggu hingga benar-benar kering dan siap jadi bahan kreasi” tambahnya.

Berbagai macam hasil kerajinan telah dapat dikreasi oleh tim Supiyah, mulai dari tas wanita, tempat alat tulis, tempat tissue hingga stand lampu meja. Dan ternyata harganya relative murah, untuk tas wanita berukuran sedang dijual hanya seharga Rp200.000an saja. Dirinya hanya mengeluhkan sulitnya pemasaran, dan karena itu pula dirinya tidak meluangkan waktu khusus dalam membuat kerajinan tersebut. Hal ini amat disayangkan oleh Bripka Fifit, dirinya mengatakan bahwa jika tekhnik pemasaran bagus maka demand pun akan besar. Fifit pun mengambil berfoto dengan beberapa produk kerajinan sebagai endorse, yang dengan itu dirinya akan menghubungkan dengan para retailer baik itu secara online maupun offline.”Dengan kualitas eceng gondok yang lebih baik dari pada Surabaya dan Bangkalan, saya optimis produk Leces ini mampu menembus pasar Jawa Timur” jelasnya. Fifit menambahkan bahwa Surabaya dan Bangkalan adalah daerah penghasil kerajinan eceng gondok yang sudah terkenal lebih dahulu, namun karena tanaman eceng gondok yang tumbuh di Leces adalah dari sumber mata air, maka jelas lebih baik dari dua kota yang disebutkan lebih awal tersebut. Tanpa terasa alunan ayat-ayat suci Al Quran terlantun dari speaker musholla disekitar rumah Supiyah, menandakan sebentar lagi magrib tiba dan akhirnya Kanit Binmas Leces beserta TBNews pamit undur diri. Supiyah melepas kami dengan senyum yang penuh arti. Teruslah berkreasi bu. (ptn/fit)