Sunday, January 14, 2018

Tribratasiana Polres Probolinggo : Berawal Saling Sindir, Berakhir Cakar-Cakaran

Senyum tanda perdamaian
Polres Probolinggo - Jam sudah menunjukkan pukul 17.30 wib ketika seorang wanita datang bersama seorang laki-laki ke Polsek Leces. Adalah Asita (24), ibu muda yang datang mengadu perihal penganiayaan yang dialaminya. Kedatangan Astita yang ditemani suaminya tersebut disambut Kepala Sentra Pelayanan Kepolisian Terpadu (Ka SPKT) yang sedang bertugas, Aiptu Samsuri. Asita pun menceritakan kronologis kejadian dari A hingga Z. Setelah mengetahui duduk permasalahan, Samsuri pun berkoordinasi dengan Kanit Intel Polsek Leces yaitu Bripka Krisna dan anggota piket lainnya. Dan diputuskan saat juga bahwa semua yang terlibat harus hadir di Mapolsek.
Penandatanganan pernyataan damai
Krisna pun segera berkoordinasi dengan perangkat Desa Sumberkedawung untuk menghadirkan dua kakak beradik yang dilaporkan oleh Asita.  Tak lama kemudian datanglah Ike (20) dan Esti (34) dengan didampingi oleh ayahnya. Lalu Krisna segera menginterogasi kedua kakak beradik tersebut di tempat terpisah. Setelah mendapatkan bahan keterangan (Baket) dari kedua belah pihak, Krisna pun kembali berkoordinasi dengan Ka SPKT Samsuri yang kemudian diadakan gelar perkara singkat. “Asita mengadu telah dianiaya oleh Ike dan Esti dengan cara dicakar, tapi setelah kami lihat secara kasat mata tak ada bekas cakaran maupun penganiayaan lainnya, dan antara pelapor dan terlapor adalah tetangga dekat rumah, maka diputuskan untuk mendamaikan kedua belah pihak yang bertikai”, jelas Krisna
Tak mudah mendamaikan antara Asita dengan Ike dan Esti, tensi diantara pelapor dan terlapor masih cukup tiAdd captionnggi. Tak ada yang mengaku bersalah. Asita merasa dianiaya  sedang Ike dan Esti juga merasa mendapat perlakuan yang tidak mengenakkan dari Asita, malah Asita dan Ike saling menyalahkan. Berkat keuletan Krisna dan Samsuri, tepat pukul 20.30 wib dengan disaksikan oleh suami Asita, ayah Ike dan Esti serta perangkat Desa Sumberkedawung, ditandatanganilah pernyataan damai antara Asita, Ike dan Esti. Masing-masing pihak sepakat saling memaafkan, saling menerima kesalahan masing-masing dan tidak akan mengulangi perbuatan apapun lagi yang dapat menimbulkan keributan bertetangga.


Menurut Krisna pemicu pertengkaran antara ibu-ibu muda tersebut hanyalah persoalan sepele. “Awalnya hanya saling semon, lalu puncaknya hari ini cakar-cakaran” jelas polisi berbadan besar tersebut sambil tersenyum. Dirinya juga mempertimbangkan faktor sosial dalam hal ini kerukunan hidup bertetangga yang niscaya tidak akan terbina dengan baik jika perkara ini sampai ke meja hijau, meskipun hanya tindak pidana ringan (tipiring).  Setelah penandatanganan pernyataan, semua yang hadir saling bersalaman, memaafkan dan kembali ke rumahnya masing-masing.(ptn)