Sunday, December 9, 2018

Satu-Satunya Cabang Pesantren Sidogiri Di Probolinggo Ternyata Ada Di Leces

Tribratanews Polres Probolinggo | Leces - Pada malam itu (12/2018) Brigpol Ludfi sebagai pengemban fungsi Bhabinkamtibmas Desa Jorongan berkesempatan bersua dengan salah satu pengasuh Ponpes Sullamul Hidayah yang betalamat di Jl. Ky. Maksum Dusun Campuran Desa Jorongan Leces Probolinggo. Berasama Perangkat Desa Setempat, Rofik (34) Ludfi mendatangi kediaman H. Dayat (55) yang juga masih berada satu komplek dengan bangunan pondok.

Dari kejauhan pesantren ini sudah terlihat megah. Meskipun tidak terlihat mewah, namun bangunan kelas dua lantai dan masjid berdiri kokoh dan menjulang. Sangat mudah untuk dikenali. Hingga saat ini jumlah santri putra mencapai 156 orang dan 209 orang santri putri.

H. Dayat menyambut kedatangan dua Aparatur Pemerintah tersebut dengan ramah, yang kemudian mempersilahkan Ludfi dan Rofik masuk ke ruang tamu rumahnya. Di usianya yang lebih dari setengah abad, H. Dayat masih terlihat enerjik. Ludfi pun memulai perbincangannya dengan menanyakan perihal Ponpes yang namanya telah terkenal hingga luar Probolinggo tersebut.

Perlahan H. Dayat mulai mengisahkan bahwa sejak berdiri tahun 1960 silam, pesantren ini tetap konsisten dengan sistem pembelajaran dengan mengikuti kurikulum Pesantren Sidogiri, Pasuruan, Jawa Timur. Sebelum berkembang dan dikenali masyarakat, pesantren ini bermula dari mushala kecil yang didirikan oleh Kiai Alawi. Menurutnya, kala itu Kiai Alawi merasa prihatin dengan kondisi sosial masyarakat sekitar yang kurang mengenal nilai-nilai Islam, terutama tata cara shalat.

“Akhirnya, Mbah membuat mushala sebagai tempat mengajari warga sekitar mengenai pendidikan agama,” lanjutnya. Pada tahun 1980, Kiai Alawi berpulang, tonggak kepemimpinan mushala itupun digantikan sang Kiai Maksum yang tak lain adalah menantu Kiai Alawi. Sejak saat itu, perkembangan mushala pun mulai berkembang. Saat itu, Kiai Maksum mulai memberikan nama mushala itu dengan nama Sullamul Hidayah.

Pada saat itulah pendidikan diniyah didirikan. Namun sebelum meluluskan santri hingga kelas VI, Kiai Maksum wafat pada tahun 1995. “Untuk selanjutnya perkembangan pesantren diserahkan kepada KH Fathur Rohman yang merupakan menantu Kiai Maksum,” bebernya.

Kiai Rohman yang merupakan alumnus Pesantren Sidogiri Pasuruan mengembangkan pendidikan diniyah. Kala itu ia meminta bantuan kepada teman sejawatnya di pesantren untuk mengajar di Pesantren Sullamul Hidayah tersebut. Karena guru diniyah yang diambilnya alumnus Pesantren Sidogiri, maka seluruh kurikulum pendidikan sama persis dengan Pesantren Sidogiri.

Sejak tahun 2000 lalu, pesantren tersebut dipimpin Kiai Gufron Fath. Dibawah kepemimpinan Kiai Gufron, Pesantren Sullamul Hidayah menjadi pesantren cabang sah Pesantren Sidogiri sejak tahun 2003 lalu. Dengan status itu, maka santri yang lulus pada jenjang pendidikan madrasah ibtidaiyah, bisa melanjutkan pendidikan di MTs Diniyah di Pesantren Sidogiri. “Satu-satunya pesantren di Kabupaten Probolinggo yang berstatus cabang Pesantren Sidogiri cuma Pesantren Sullamul Hidayah,” pungkasnya. (ptn)